Powered By Blogger

babad pecinan par 3


XVII
Dengan cara rahasia Sing Seh menemui Martapura, untuk min­ta saran apa langkah yang dibuat untuk para pengungsi itu. Kata Martapura, memang Pangeran itu betul-betul pengungsi. Sing Seh akan mendapat tambahan kekuatan. Karena itu sebagai bukti bahwa mereka pengungsi benar-benar, Pangeran beserta pengi­kutnya itu diminta saja untuk menyerahkan senjatanya. Kalau sudah begitu Martapura lalu akan lapor kepada Patih Natakusuma yang tentu akan diteruskan kepada raja. Dengan begitu per­soalan yang dirahasiakan itu akan segera terpecahkan. Mendengar saran itu Sing Seh sangat gembira hatinya. Tetapi is agak sangsi karena Pangeran itu dikejar oleh dua orang turnenggung yaitu Arya MIayakusuma dan Mangkupraja. Martapura mengatakan walaupun begitu tanpa perintah dari Martapura sebagai panglima laut atau perintah dari Jayaningrat sebagai panglima darat tidak akan ter­jadi bentrokan.Dernikianlah saran Martapura telah dapat dijalankan dengan baik. Senjata pengungsi telah diserahkan kepada Sing Seh, hanya Pangeran Wirarnanggala dan Wiratmeja yang masih memakai ke­ris.DaIam pada itu Jayaningrat memanggil Martapura dan Mla­yakusuma. Ia menyesalkan atas pembunuhan terhadap Pangeran Tepasana yang tidak ada untungnya. Jayaningrat menyesalkan Ki Patih Natakusurna yang tidak dapat mencegah kehendak raja yang salah.
XVIII
Kata layaningrat, "Raja menghukum orang yang belum je­las kesalahannya, itu namanya hukum apa? Tidak pantas kalau barn dakwaan saja lalu dibunuh. Keturunan Mataram kalau ber­buat salah tentu akan celaka. Orang yang telah menyerah tidak pantas kalau dibelenggu." Begitulah Adipati Jayaningrat menge­luarkan isi hatinya dengan panjang lebar sampai-sampai kepada keagungan raja Rama dan raja-raja Mataram pada masa lalu. 
XIX
Dikatakan pula oleh Jayaningrat, "Seandainya Pangeran Tepa­sana dijadikan senapati, tentu akan lebih menguntungkan, negara akan bertambah kuat. Kalau seperti itu, lebih balk aku jangan menyaksikan apesnya rajaku. Aku tidak bisa melihat kerusakan tanah Jawa. Aku rnau berkirim surat kepada Raden Patih untuk memohon agar putranya yang jadi menantuku, Raden Bagus Pa-ma, menggantikan kedudukanku."
Mendengar kata-kata Jayaningrat itu Martapura tertegun, ma­tanya membelalak. Jayaningrat menyatakan lebih balk memban­tu Belanda daripada Cina. Maka Martapura lalu menjawab bagai­mana dengan dirinya yang telah terlanjur menjadi pemimpin yang membantu Cina. Jawab Jayaningrat, itu tergantung kepada hati masing-masing. Kalau niatnya suci pasti mendapat perlindungan Tuhan.
Dalam pada itu utusan Sing Seh telah menyampaikan surat kepada Patih Natakusuma, yang memberitahukan bahwa Pangeran Wiramanggala mengungsi kepada Sing Seh, lalu banyak orang Ja­wa datang mengadu-adu. Sing Seh mohon netunjuk Patih. Ki Patih lalu melapor kepada raja. Sang Prabu lalu mengambil keputusan bahwa mulai saat itu Sang Prabu akan menghancurkan Gina dan mengirimkan bantuan kepada Pringgalaya di Salahtiga.
XX
Pada hari yang berikutnya, Patih Natakusuma telah menyiap­kan barisan prajurit di depan beteng kumpeni. Tiga orang tu­menggung yang memimpin barisan menyatakan kepada kapten kumpeni bahwa para prajurit itu yang akan diperbantukan ke Sa­Iah tiga. Tinggal menunggu Mantri Kalang Gowong raja.
Di dalam istana, para punggawa juga telah bersiap siaga. Semalam suntuk ada prajurit yang niembongkar beteng. Ketika Mantri Kalang—Gowong telah datang, kapten kumpeni mau mern­beti salam. Tiba-tiba is ditembak oleh seseorang, tetapi tidak mengenainya. Maka terjadilah perang dengan kumpeni. Banyak prajurit Kartasura yang mati tertembak. Kumpeni lalu masuk ke dalam beteng. Raden Patih mendapat laporan bahwa maksud mengadu domba diketahui oleh kumpeni, karena belum adajanji, Si Goplem telah menembak. Hal itu lalu dilaporkan kepada raja. 
xx'
Sang Prabu memerintahkan Martapura untuk mengambil Pa­ngeran Wiramanggala beserta seluruh keluarga dan pengikutnya. Sing Seh menyetujui. Ia telah merasa senang mendengar bahwa beteng kumpeni telah digempur. Setelah tertangkap, Pangeran Wirainanagala dan Raden Wiratmeja dibunuh. Hanya Raden Mas Garencli putra Pangeran Tepasana dan Raden Mas Surada putra Jayakusuma selamat tidak ketahuan oleh Martapura. Karena kedua anak ini masih terlalu muda, mereka dipungut oleh seorang Cina bernama Etik, karena is merasa belas kasihan. Kedua anak itu di­titipkan di desa Demak. Hidupnya sengsara tempat bermainnya di hutan.
Dalam pada itu Ki Patih mengumpulkan prajurit Cina akan diajak bersama-sama mengepung beteng kumpeni. Ada 500 orang prajurit Cina yang datang. Meriam-meriam besar milik raja dipin­jam oleh prajurit Cina untuk melawan kumpeni. Maka beteng kumpeni telah dikepung oleh barisan Cina—Jawa. Segera meledak­lah tembakan meriam yang hertubi-tubi ke arah beteng. Kumpeni terkejut lalu membalas melancarkan ternbakan.
Dalain pada itu ada seorang pelarian dan Betawi bernama Sapanjang membawa prajurit 1000 orang. Sapanjang ingin meng­hadap Sang Prabu.
Sapanjang telah menghadap raja untuk minta pekerjaan. Sapanjang diminta ikut membantu membersihkan musuh. Sapan­jang inenerima dengan senang hati. Ia mohon diperkenankan membuat unduk dan minta kuda laki dan perempuan untuk mem­buat siasat perang. Pada waktu itu kebetulan kumpeni kehabisan beras. Semua akan kelaparan. Alchirriya mereka pada berunding lebih balk menyerah saja kepada Sang Prabu. Maka kumpeni lalu membuat surat, dan surat itu lalu dilemparkan ke dalam beteng. Surat diambil oleh penjga lalu dilaporkan kepada Raden Patih. Oleh Raden Patih surat itu diserahkan kepada Sang Prabu. Setelah dibaca, Sang Prabu lalu memberikan surat balasan dengan cara yang sama melemparkan ke dalam beteng. Setelah surat balasan itu diterima kumpeni, Kapten Lapel lalu memerintahkan mema­sang benders putih. Utusan dikirim untuk menyerahican hidup dan mati kumpeni. Raja mengatakan bahwa kalau memang benar, sebagai tanda penyerahannya, besuk pagi pukul 7 semua kumpeni supaya keluar dari beteng dan jangan ada yang membawa senjata.

XXII
Kapten Lapel segera memberi pengumuman kepada seluruh kumpeni di dalam beteng agar mengumpulkan senjatanya tali! mengikatnya.Pukul 07 pagi kurnpeni telah berkumpul di depan beteng de­ngan membuka topi. Pringgalaya lalu inemang,0 mereka. Setelah datang lalu diperintahkan untuk rnenunggu Ki Patih. Datang pe­rintah dari Sang Patih agar seluruh prajurit kumpeni itu dibagi­bagi kepada seluruh penggawa. Kapten Lapel dibawah Pringgalaya sendiri. Letnan Pelpel di bawah Tirtawiguna dan sekretaris di ba­wah Rajaniti. Sesudah itu Sang Prabu lalu utusan memeriksa be­teng. Utusan mengambil keris di dalam peti dari beteng diserah­kan kepada Sang Prabu. Tiga hari kemudian Sang Prabu melihat­lihat ke dalam beteng. Setelah itu beteng diperintahkan dibong­kar. Semua harta benda dan senjata dirampas dibagi-bagi ke se­luruh penggawa. Hanya,Ki Patih yang tidak mau menerima harta rampasan itu. Selanjutnya seluruh kumpeni yang telah menyerah itu disunat lalu diajari agama, berganti nabi.
Di Semarang kumpeni telah mengirim laporan ke Betawi bahwa Sang Prabu membantu Cina. Jendral kumpeni sangat heran. la lalu mengirim bantuan ke Semarang terdiri dari kumpeni Islam, Ambon, Makasar dan Ternate berjumlah 1000 orang. Mereka di­berangkatkan melalui laut.
Raden Patih telah pula menyiapkan seluruh prajurit pesisir, kecuali Gresik, Blambangan, Tuhan dan Sedayu yang membalik berpihak ke Madura. Lalu terjadilah pertempuran di Semarang se­larna sehari suntuk. Prajurit kedua belah pihak banyak yang coati. Akhirnya kumpeni kalah, semua lalu menyelamatkan diri masuk ke dalam beteng.
Di Kartasura Raden Patih menghadap raja untuk memohonkan Raden Suinadiwirya menantu Jayaningrat yang juga putra Ki Patih untuk menggantikan Jayaningrat yang sudah tua. Sang prabu menerima usul itu. Kecuali itu Patih mengusulkan supaya kapten,letnan dan sekretaris kumpeni dibunuh saja. Raja juga menyetujui usul itu. Maka kemudian ketiga orang Belanda itu lalu dibunuh.Raden Patih lalu memanggil Kapten Sapanjang agar menyiapkan prajurit untuk membantu perang di Semarang. Sapanjang lalu menyiapkan barisan di ajun-alun. Setelah mendapat restu Ba­ginda, mereka lalu berangkat. Sesampainya di Semarang para pra­jurit itu lalu menempatkan diri.
Sesudah semua beres, Mlayakusuma menemui Jayaningrat yang sedang sakit untuk menyampaikan perintah Sang Prabu bahwa Raden Supama putra Raden Patih menggantikan Jayaning­rat. Jayaningrat lalu menasihati menantunya, agar jangan hanya bersenang-senang saja, karena akan terjadi kerusakan besar di tanah Jawa ini. Jayaningrat mengatakan agar yang dikatakan ke­pada menantunya itu dirahasiakan. Selanjutnya dikatakan bahwa di dalam ajaran agama bila sesuatu telah didahului oleh perbuatan sewenang-wenang, maka akhirnya tidak akan menang. Kumpeni itu belum pernah berdosa. Lalu menolong Cina, kita tidak ber­hutang budi. Lagi pula Cina itu kapir berhala. Kumpeni kapir
Itu juga Pangeran Mangkunegara bersaudara belum jelas ke­salahannya. Tentu itu semua akan mendapat balasannya. Karena itu pasti perangnya akan kalah, orang Jawa mendapat kerusakan.
Begitulah Jayaningrat menasihati panjang lebar sambil ber­kaca-kaca matanya. Ia merasa belas kasihan kepada rajanya. Se­telah itu Ki Dipati lalu pulang ke Pekalongan diantar oleh menan­tunya sampai di Karanganyar. Jayaningrat menginap di desa Kali­wungu,lalu di Kedungrombong semalam suntuk tidak hisa tidur karena hatinya sangat sedih. la ingin bunuh diri tidak mau rnelihat rusaknya tanah Jawa dan apes rajanya. Ia lalu minum ra­cun dan rneninggal dunia pada malam itu juga.
Sementara itu Sing Seh dan para senapati telah mernbuat beteng di Pangambengan. Pada saat itu bala bantuan kumpeni telah datang dari laut. Tiga hari kernudian terjadilah pertempur­an. Kumpeni kalah prajuritnya banyak yang mati. Yang masih hidup lalu mengungsi ke dalam beteng. Mereka rnembalas musuh dengan tembakan meriarn. Bala tentara Cina kembali ke tempat­nya. Kumpeni takut, sampai beberapa waktu tidak berani keluar, ngumpat .di dalam beteng saja.
Ketika para penjaga beteng di Pangambengan sedang enak tidur, tiba-tiba Pangambengan diserang kumpeni. Mereka terke­jut dan melarikan diri tidak ingat lagi semua yang ditinggalkan. Sehingga meriam milik Sang Prabu yang dipinjarm oleh Mlayaku­suma dapat dirampas oleh kumpeni. Kumpeni kembali ke beteng­nya dengan membawa meriam rampasan. Hal ini dilaporkan ke pada Sang Prabu yang menjadikan kemarahannya. Raden Maya­kusuma dan Raden Wiryadiningrat lalu diperintahkan untuk merebut kembali meriarn itu. Para prajurit berperang kembali. Pra­jurit kecil banyak yang mati terkena meriam Sang Prabu yang di­rampas oleh kumpeni itu. Prajurit Cina mengimibanginya.
Dalam pada itu Ki Metaun dan Turnengg-ung Jipang melapor kepada raja bahwa prajurit dari Madura pada menyeberang ke Gre­sik. Tuban telah dijaga oleh Dipasana, bupatinya Surahadiningrat tumpas di da1am kota.
Prajurit' Madura sekarang membuat barisan di Sedayu. Dari Sedayu lalu akan menggempur kota Jipang. Sampai di Jipang pra­jurit San-Tang lalu merampok. Utusan Jipang ialu menyampaikan surat kepada Sang Prabu. Sang Prabu lalu bertanya kepada Ki Pa­tih bagaimana caranya mengatasi bahaya ini. Ki Patih menjawab bahwa Madura itu memang sangat berat, sedanekan di Semarang prajurit Kartasura sudah banyak rnendapat kerusakan. Sang Prabu mengatakan bahwa ia dapat meneegah, hanya bagian utara hendak­lah dibicarakan dengan Pringgalaya dan Tirtawiguna dengan se­baik-baiknya.
Raden Patih lalu rnemanggil PringgaIaya dan 'firtawiguna, di­perintahkan untuk memikirkan baik-baik apa yang akan dilaku­kan. fbarat orang sholat yang imarnnya mengucap amin, tetapi makrnurnnya dengan perlahan tidak mengucap a_min. Itulah Ma­dura, sekarang mernbuat susah.
Tumenggun2 Tirtawiguna hanya dapat mengatakan pasrah, ia tidak dapat menyumbangkan pendapatnya. Demikian pula. Ar­ya Pringgalaya. Raden Patih taju mengusir keduanya, katanya, "Kalau demikian lebih baik anda pulang saja, di sini tidak ada ha­silnya tidak dapat diajak berunding." Keduanya lalu mengundur­kan diri.


Tidak ada komentar: