Powered By Blogger

sejarah indonesia

oleh Anggrek Cendana pada 29 September 2012
Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘boneka Indonesia’ ketangan USA dkk., hasil tangkapan pun dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengaImperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonoom-ekonoom Indonesia yang top”. Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ’the Berkeley Mafia’ (yang kebanyakan dosen UI), karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, mereka menawarkan : … buruh murah yang melimpah… cadangan besar dari sumber daya alam … pasar yang besar.” Di halaman 39 ditulis: “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ’Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffry Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Sampson, telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. ’Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini yang kami inginkan: ini, ini, dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. 
mbilalihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, - Tusukan regim Soeharto atas bangsanya/Soekarno mengakibatkan kekayaan alam Indonesia dari Sabang (LNG Arun) s/d Merauke (Free Port ) jatuh ketangan negara Barat terutama USA. Regim militer dibawah Soeharto bersama USA dan negara barat lainnya bagaikan merampok Indonesia (diawal kejayaan Soeharto), misalnya penguasaan konsesi tambang2: Freeport, Caltex, LNG Arun, dst; jadi penguasa kekayaan alam dari Sabang sampai dengan Merauke adalah negara asing lewat agennya di Jakarta. Juga lewat IMF dan world bank, USA menguasai finansial, Indonesia mulai dijajah ekonominya dengan dijerat hutang, Jakarta lalu menjadi akditip terhadap hutang, strategi gali-tutup hutang dilakukan, pejabat penanda tangan hutang tentu saja mendapat komisi, inilah yang membuat para petinggi Indonesia kecanduan berhutang! Regim ORBA sungguh2 menggadaikan negara ini ke negara asing! Boleh dikatakan bahwa 1/3 kekayaan alam Indonesia jatuh ketangan asing, 1/3 nya lagi jatuh ketangan para penguasa hitam terutama di Jakarta (birokrat, politisi, jendral AD/POLRI, dan konglomerat hitam), dan hanya 1/3 sisanya saja yang menjadi sumber APBN kita! Maka benarlah bahwa pemilik kekayaan alam Indonesia itu bukan manusia lokal seperti Dayak, Riau, Aceh, dan Irian, melainkan negara adidaya dan para oknum pejabat pusat di Jakarta. Tidak heran kalau mereka (masyarakat luar Jawa) berkeinginan melepaskan diri dari Indonesia sebab mereka tetap miskin, bagaikan anak ayam mati dilumbung padi!
- Untuk mengelabui sejarah pelanggaran HAM 1965 atau kupdeta militer, maka secara licik regim militer memakai strategi “Maling teriak maling”: 1) Semua jalan raya disemua kota besar Indonesia diinstruksikan untuk memakai nama para jendral Angkatan Darat yang terbunuh secara konyol namun tragis (A. Yani, Panjaitan, dst.) dan mereka ini digelari pahlawan nasional, langkah ini disertai pendirian monumen2 yang bersifat otot dan kekerasan: patung tentara dan bambu runcing, peran kecerdasan para intelektual seperti organisasi Stovia, Bung Karno, Bung Hatta, Sri Sultan HB IX, yang justru lebih penting malah dikecilkan bahkan diabaikan. 2) Hari lahir Pancasila digantikan dengan hari kesaktian Pcsl. 3) Direkayasa film sejarah yang menipu yang wajib diputar secara nasional setiap tahunnya. 4) Dibuat buku wajib sejarah untuk SD s/d SMA yang menyesatkan. 5) Menciptakan sekolah bagi eselon satu pegawai negeri yaitu LEMHANAS (lembaga ini adalah monumen resmi supremasi militer terhadap sipil, saat ini masyarakat dikelabui dengan mendudukan seorang Sipil sebagai kepalanya, apa sih arti seorang dibanding segerombolan militer? Pada umumnya kepala LEMHANAS akan dihadiahi jabatan yang amat basah, minimal menteri, seperti Yuwono Sudarsono dan Purnomo Yosgiantoro). 5) Menciptakan penataran P4 dan mata kuliah Kewiraan (dibawah kendali militer yang ketat). 6) Mewajibkan litsus dan surat bebas G30S bagi pencari kerja. 7) Stigmatisasi PKI sebagai pengkhianat bangsa. Mendirikan berbagai LSM/ORMAS untuk melawan bangkitnya gerakan penegakan kebenaran sejarah 1965. 9) Menguasai berbagai mass media baik koran, radio, dan terutama TV untuk menjadi leader dalam pembentukan opini bangsa. 10) Membrangus kampus dengan wawasan Almamater (dan sekarang ini dengan strategi melibatkan para dosennya untuk ber multi fungsi yaitu: dosen, selebritis, bisnis, dan politikus). 10) Menugas belajarkan para jendral TNI/POLRI lalu beramai-ramai menempuh program MM dan MBA untuk menjustifikasi peran multi fungsi mereka (inilah saat dimulainya perusakan mutu pendidikan tinggi di Indonesia; banyak militer yang malas kuliah/belajar namun tetap ingin lulus, dan dosennyapun takut pada para preman berbintang yang digaji negara ini). 11) Terus menerus menyewa ilmuwan untuk menulis buku sejarah versi mereka (= regim militer), terutama ilmuwan Barat mengingat bangsa Indonesia masih merasa rendah diri ketimbang kulit putih. 12) Last but not least, menyelubungi kupdetat merangkak militer ini dengan menciptakan “ideologi baru yang disebut Dwi fungsi ABRI”.
- Mengingat kasus 1965 adalah kasus pelanggaran HAM yang maha besar, bahkan lebih kejam daripada Hitler di Jerman, sebab regim Soeharto membantai bangsanya sendiri itupun s/d anak-cucu, Hitler/Jerman membantai Yahudi, maka level pelanggaran HAM 1965 sudah tingkatan internasional. Para oknum Jendral AD sebagai pelaku kebiadaban yang luar biasa itu kini hidupnya selalu berkeringat dingin campur darah, ketakutan, kecemasan, rasa bersalah dan hidupnya selalu dibayang-bayangi/dihantui wajah hampir sejuta jiwa korban manusia. Demi menghindari tuntutan yang maha luar biasa besarnya dan beratnya dari para korban G30S tsb., para oknum Jendral AD ini terus menerus menggunakan politisasi agama Islam untuk melawan gerakan pelurusan sejarah. Terutama menggunakan para pemuka agama, LSM2, dan cendekiawan kampus. Dana finansial bagi mereka tidak masalah, sebab 1/3 harta negara Indonesia telah mereka kuasai, ini hasil merampok bangsanya sendiri selama kurang lebih 32 tahun.
- Kedigdayaan regim militer/ORBA adalah kemampuan menguasai dana (hasil merampok bangsanya sendiri) dan menyusupi semua mass media di Indonesia: dari televisi, radio, s/d koran. Bahkan koran terbesar di Indonesia, yakni Kompas, pun telah mereka susupi. Jika anda adalah pembaca yang sangat cerdas, teliti, serta selalu sadar dan waspada, maka setiap kali ada berita di Kompas tentang usaha pemulihan nama baik para korban stigmatisasi PKI (yang saat ini mereka sudah tua, diatas 65 th), selalu diikuti gambar/poto yang menyolok sekali tentang demonstran yang mengingatkan akan bahaya timbulnya PKI bila hak mereka dipulihkan (catatan: mengapa bukan bahaya KKN, Orba dan militerisme yang ditakutkan?), demo ini pada umumnya menggunakan atribut Islam, misalnya menggunakan bendera Front Pembela Islam. Demikian pula, tulisan bermutu Kwik Kian Gie yang berusaha membeberkan konspirasi regim Soeharto dengan regim USA tidak dapat dimuat di Kompas, melainkan Jawa Pos. Prof. Ben Anderson, ahli G30S, menyiratkan sikap mendua bos Kompas yakni Jacob Utama (sebab saat regim Soeharto berkuasa, Jacob Utama termasuk pendukungnya, untuk ini mohon dibaca artikel yang lain). Pada akhir2 ini (2007) Kompas sering memuat dan memulihkan citra generasi tua penopang orde Baru. Strategi Kompas boleh disebut “mengikuti arus, namun tidak tenggelam”, sebab Kompas dimiliki oleh kaum minoritas (Katolik). Satu2nya kesulitan regim Orba adalah menguasai informasi di internet yang bebas-merdeka!

Penutup
Dalang/otak penggulingan Soekarno adalah CIA (USA) mengadu domba dengan  Soeharto dibantu para oknum jendral TNI AD. Hubungan antara Amerika dengan Soeharto saat 1965 adalah bagaikan hubungan antara majikan (atau dalang) dengan pembunuh bayaran (atau operator lapangan); hubungan ini sampai dengan saat ini masih amat sangat dirahasiakan. Dan untuk menutup maha rahasia ini, PKI dikambing hitamkan. G30S di tahun 1965 adalah pengkianatan para oknum jendral TNI AD dibawah pimpinan Soeharto atas bangsanya, bukan pengkianatan PKI.
Akibat maha rahasia ini, USA bagaikan mempunyai kartu As terhadapap Indonesia; apapun kehendak USA boleh dikata harus dituruti oleh pemerintah Indonesia, misal dalam hal kasus Free Port, tambang minyak blok Cepu, dan kasus MoU Microsoft. Mengingat regim Soeharto masih mendominasi perpolitikan di Indonesia hingga kini (cermatilah, hampir semua parpol disusupi oleh para oknum jendral TNI AD), maka maha rahasia ini sulit dibongkar. Sayangnya, rahasia terbesar dan maha memalukan para penguasa politik Indonesia saat ini ada ditelapak tangan pemerintah Amerika! Amerika lalu dapat mendikte Indonesia, sebab kalau semua keinginan USA tidak dituruti, rahasia ini dapat mereka (USA) ungkapkan. Dan kalau diungkapkan, maka nasib fatal akan dialami oleh Soeharto dan para oknum jendral TNI AD (plus mafia Berkeley); sebab ternyata mereka ini adalah pengkianat negara terbesar sepanjang sejarah Indonesia, konsekuensinya bangsa Indonesia barangkali akan menggantung pengkianat ini tinggi2 di menara Monas Jakarta, dan nama harum mereka akan hancur berantakan seketika itu.
Sebagai penutup, bila dominasi perpolitikan Indonesia oleh para jendral pengkianat bangsa ini (plus parpol bikinan mereka) dapat diakhiri secara cepat, maka percepatan perbaikan bangsa juga akan mengalami kelipatan luar biasa, bagaikan habis gelap terbitlah terang! Oleh sebab itu, mohon bantuan pembaca untuk menyebarluaskan artikel ini demi meningkatkan kecerdasan berpolitik bangsa. Terima kasih.

Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘boneka Indonesia’ ketangan USA dkk., hasil tangkapan pun dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonoom-ekonoom Indonesia yang top”. Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ’the Berkeley Mafia’ (yang kebanyakan dosen UI), karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, mereka menawarkan : … buruh murah yang melimpah… cadangan besar dari sumber daya alam … pasar yang besar.” Di halaman 39 ditulis: “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ’Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffry Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Sampson, telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. ’Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini yang kami inginkan: ini, ini, dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. - Tusukan regim Soeharto atas bangsanya/Soekarno mengakibatkan kekayaan alam Indonesia dari Sabang (LNG Arun) s/d Merauke (Free Port ) jatuh ketangan negara Barat terutama USA. Regim militer dibawah Soeharto bersama USA dan negara barat lainnya bagaikan merampok Indonesia (diawal kejayaan Soeharto), misalnya penguasaan konsesi tambang2: Freeport, Caltex, LNG Arun, dst; jadi penguasa kekayaan alam dari Sabang sampai dengan Merauke adalah negara asing lewat agennya di Jakarta. Juga lewat IMF dan world bank, USA menguasai finansial, Indonesia mulai dijajah ekonominya dengan dijerat hutang, Jakarta lalu menjadi akditip terhadap hutang, strategi gali-tutup hutang dilakukan, pejabat penanda tangan hutang tentu saja mendapat komisi, inilah yang membuat para petinggi Indonesia kecanduan berhutang! Regim ORBA sungguh2 menggadaikan negara ini ke negara asing! Boleh dikatakan bahwa 1/3 kekayaan alam Indonesia jatuh ketangan asing, 1/3 nya lagi jatuh ketangan para penguasa hitam terutama di Jakarta (birokrat, politisi, jendral AD/POLRI, dan konglomerat hitam), dan hanya 1/3 sisanya saja yang menjadi sumber APBN kita! Maka benarlah bahwa pemilik kekayaan alam Indonesia itu bukan manusia lokal seperti Dayak, Riau, Aceh, dan Irian, melainkan negara adidaya dan para oknum pejabat pusat di Jakarta. Tidak heran kalau mereka (masyarakat luar Jawa) berkeinginan melepaskan diri dari Indonesia sebab mereka tetap miskin, bagaikan anak ayam mati dilumbung padi! - Untuk mengelabui sejarah pelanggaran HAM 1965 atau kupdeta militer, maka secara licik regim militer memakai strategi “Maling teriak maling”: 1) Semua jalan raya disemua kota besar Indonesia diinstruksikan untuk memakai nama para jendral Angkatan Darat yang terbunuh secara konyol namun tragis (A. Yani, Panjaitan, dst.) dan mereka ini digelari pahlawan nasional, langkah ini disertai pendirian monumen2 yang bersifat otot dan kekerasan: patung tentara dan bambu runcing, peran kecerdasan para intelektual seperti organisasi Stovia, Bung Karno, Bung Hatta, Sri Sultan HB IX, yang justru lebih penting malah dikecilkan bahkan diabaikan. 2) Hari lahir Pancasila digantikan dengan hari kesaktian Pcsl. 3) Direkayasa film sejarah yang menipu yang wajib diputar secara nasional setiap tahunnya. 4) Dibuat buku wajib sejarah untuk SD s/d SMA yang menyesatkan. 5) Menciptakan sekolah bagi eselon satu pegawai negeri yaitu LEMHANAS (lembaga ini adalah monumen resmi supremasi militer terhadap sipil, saat ini masyarakat dikelabui dengan mendudukan seorang Sipil sebagai kepalanya, apa sih arti seorang dibanding segerombolan militer? Pada umumnya kepala LEMHANAS akan dihadiahi jabatan yang amat basah, minimal menteri, seperti Yuwono Sudarsono dan Purnomo Yosgiantoro). 5) Menciptakan penataran P4 dan mata kuliah Kewiraan (dibawah kendali militer yang ketat). 6) Mewajibkan litsus dan surat bebas G30S bagi pencari kerja. 7) Stigmatisasi PKI sebagai pengkhianat bangsa. Mendirikan berbagai LSM/ORMAS untuk melawan bangkitnya gerakan penegakan kebenaran sejarah 1965. 9) Menguasai berbagai mass media baik koran, radio, dan terutama TV untuk menjadi leader dalam pembentukan opini bangsa. 10) Membrangus kampus dengan wawasan Almamater (dan sekarang ini dengan strategi melibatkan para dosennya untuk ber multi fungsi yaitu: dosen, selebritis, bisnis, dan politikus). 10) Menugas belajarkan para jendral TNI/POLRI lalu beramai-ramai menempuh program MM dan MBA untuk menjustifikasi peran multi fungsi mereka (inilah saat dimulainya perusakan mutu pendidikan tinggi di Indonesia; banyak militer yang malas kuliah/belajar namun tetap ingin lulus, dan dosennyapun takut pada para preman berbintang yang digaji negara ini). 11) Terus menerus menyewa ilmuwan untuk menulis buku sejarah versi mereka (= regim militer), terutama ilmuwan Barat mengingat bangsa Indonesia masih merasa rendah diri ketimbang kulit putih. 12) Last but not least, menyelubungi kupdetat merangkak militer ini dengan menciptakan “ideologi baru yang disebut Dwi fungsi ABRI”. - Mengingat kasus 1965 adalah kasus pelanggaran HAM yang maha besar, bahkan lebih kejam daripada Hitler di Jerman, sebab regim Soeharto membantai bangsanya sendiri itupun s/d anak-cucu, Hitler/Jerman membantai Yahudi, maka level pelanggaran HAM 1965 sudah tingkatan internasional. Para oknum Jendral AD sebagai pelaku kebiadaban yang luar biasa itu kini hidupnya selalu berkeringat dingin campur darah, ketakutan, kecemasan, rasa bersalah dan hidupnya selalu dibayang-bayangi/dihantui wajah hampir sejuta jiwa korban manusia. Demi menghindari tuntutan yang maha luar biasa besarnya dan beratnya dari para korban G30S tsb., para oknum Jendral AD ini terus menerus menggunakan politisasi agama Islam untuk melawan gerakan pelurusan sejarah. Terutama menggunakan para pemuka agama, LSM2, dan cendekiawan kampus. Dana finansial bagi mereka tidak masalah, sebab 1/3 harta negara Indonesia telah mereka kuasai, ini hasil merampok bangsanya sendiri selama kurang lebih 32 tahun. - Kedigdayaan regim militer/ORBA adalah kemampuan menguasai dana (hasil merampok bangsanya sendiri) dan menyusupi semua mass media di Indonesia: dari televisi, radio, s/d koran. Bahkan koran terbesar di Indonesia, yakni Kompas, pun telah mereka susupi. Jika anda adalah pembaca yang sangat cerdas, teliti, serta selalu sadar dan waspada, maka setiap kali ada berita di Kompas tentang usaha pemulihan nama baik para korban stigmatisasi PKI (yang saat ini mereka sudah tua, diatas 65 th), selalu diikuti gambar/poto yang menyolok sekali tentang demonstran yang mengingatkan akan bahaya timbulnya PKI bila hak mereka dipulihkan (catatan: mengapa bukan bahaya KKN, Orba dan militerisme yang ditakutkan?), demo ini pada umumnya menggunakan atribut Islam, misalnya menggunakan bendera Front Pembela Islam. Demikian pula, tulisan bermutu Kwik Kian Gie yang berusaha membeberkan konspirasi regim Soeharto dengan regim USA tidak dapat dimuat di Kompas, melainkan Jawa Pos. Prof. Ben Anderson, ahli G30S, menyiratkan sikap mendua bos Kompas yakni Jacob Utama (sebab saat regim Soeharto berkuasa, Jacob Utama termasuk pendukungnya, untuk ini mohon dibaca artikel yang lain). Pada akhir2 ini (2007) Kompas sering memuat dan memulihkan citra generasi tua penopang orde Baru. Strategi Kompas boleh disebut “mengikuti arus, namun tidak tenggelam”, sebab Kompas dimiliki oleh kaum minoritas (Katolik). Satu2nya kesulitan regim Orba adalah menguasai informasi di internet yang bebas-merdeka! Penutup Dalang/otak penggulingan Soekarno adalah CIA (USA) mengadu domba dengan Soeharto dibantu para oknum jendral TNI AD. Hubungan antara Amerika dengan Soeharto saat 1965 adalah bagaikan hubungan antara majikan (atau dalang) dengan pembunuh bayaran (atau operator lapangan); hubungan ini sampai dengan saat ini masih amat sangat dirahasiakan. Dan untuk menutup maha rahasia ini, PKI dikambing hitamkan. G30S di tahun 1965 adalah pengkianatan para oknum jendral TNI AD dibawah pimpinan Soeharto atas bangsanya, bukan pengkianatan PKI. Akibat maha rahasia ini, USA bagaikan mempunyai kartu As terhadapap Indonesia; apapun kehendak USA boleh dikata harus dituruti oleh pemerintah Indonesia, misal dalam hal kasus Free Port, tambang minyak blok Cepu, dan kasus MoU Microsoft. Mengingat regim Soeharto masih mendominasi perpolitikan di Indonesia hingga kini (cermatilah, hampir semua parpol disusupi oleh para oknum jendral TNI AD), maka maha rahasia ini sulit dibongkar. Sayangnya, rahasia terbesar dan maha memalukan para penguasa politik Indonesia saat ini ada ditelapak tangan pemerintah Amerika! Amerika lalu dapat mendikte Indonesia, sebab kalau semua keinginan USA tidak dituruti, rahasia ini dapat mereka (USA) ungkapkan. Dan kalau diungkapkan, maka nasib fatal akan dialami oleh Soeharto dan para oknum jendral TNI AD (plus mafia Berkeley); sebab ternyata mereka ini adalah pengkianat negara terbesar sepanjang sejarah Indonesia, konsekuensinya bangsa Indonesia barangkali akan menggantung pengkianat ini tinggi2 di menara Monas Jakarta, dan nama harum mereka akan hancur berantakan seketika itu. Sebagai penutup, bila dominasi perpolitikan Indonesia oleh para jendral pengkianat bangsa ini (plus parpol bikinan mereka) dapat diakhiri secara cepat, maka percepatan perbaikan bangsa juga akan mengalami kelipatan luar biasa, bagaikan habis gelap terbitlah terang! Oleh sebab itu, mohon bantuan pembaca untuk menyebarluaskan artikel ini demi meningkatkan kecerdasan berpolitik bangsa. Terima kasih.
Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘boneka Indonesia’ ketangan USA dkk., hasil tangkapan pun dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonoom-ekonoom Indonesia yang top”. Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ’the Berkeley Mafia’ (yang kebanyakan dosen UI), karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, mereka menawarkan : … buruh murah yang melimpah… cadangan besar dari sumber daya alam … pasar yang besar.” Di halaman 39 ditulis: “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ’Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffry Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Sampson, telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. ’Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini yang kami inginkan: ini, ini, dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. - Tusukan regim Soeharto atas bangsanya/Soekarno mengakibatkan kekayaan alam Indonesia dari Sabang (LNG Arun) s/d Merauke (Free Port ) jatuh ketangan negara Barat terutama USA. Regim militer dibawah Soeharto bersama USA dan negara barat lainnya bagaikan merampok Indonesia (diawal kejayaan Soeharto), misalnya penguasaan konsesi tambang2: Freeport, Caltex, LNG Arun, dst; jadi penguasa kekayaan alam dari Sabang sampai dengan Merauke adalah negara asing lewat agennya di Jakarta. Juga lewat IMF dan world bank, USA menguasai finansial, Indonesia mulai dijajah ekonominya dengan dijerat hutang, Jakarta lalu menjadi akditip terhadap hutang, strategi gali-tutup hutang dilakukan, pejabat penanda tangan hutang tentu saja mendapat komisi, inilah yang membuat para petinggi Indonesia kecanduan berhutang! Regim ORBA sungguh2 menggadaikan negara ini ke negara asing! Boleh dikatakan bahwa 1/3 kekayaan alam Indonesia jatuh ketangan asing, 1/3 nya lagi jatuh ketangan para penguasa hitam terutama di Jakarta (birokrat, politisi, jendral AD/POLRI, dan konglomerat hitam), dan hanya 1/3 sisanya saja yang menjadi sumber APBN kita! Maka benarlah bahwa pemilik kekayaan alam Indonesia itu bukan manusia lokal seperti Dayak, Riau, Aceh, dan Irian, melainkan negara adidaya dan para oknum pejabat pusat di Jakarta. Tidak heran kalau mereka (masyarakat luar Jawa) berkeinginan melepaskan diri dari Indonesia sebab mereka tetap miskin, bagaikan anak ayam mati dilumbung padi! - Untuk mengelabui sejarah pelanggaran HAM 1965 atau kupdeta militer, maka secara licik regim militer memakai strategi “Maling teriak maling”: 1) Semua jalan raya disemua kota besar Indonesia diinstruksikan untuk memakai nama para jendral Angkatan Darat yang terbunuh secara konyol namun tragis (A. Yani, Panjaitan, dst.) dan mereka ini digelari pahlawan nasional, langkah ini disertai pendirian monumen2 yang bersifat otot dan kekerasan: patung tentara dan bambu runcing, peran kecerdasan para intelektual seperti organisasi Stovia, Bung Karno, Bung Hatta, Sri Sultan HB IX, yang justru lebih penting malah dikecilkan bahkan diabaikan. 2) Hari lahir Pancasila digantikan dengan hari kesaktian Pcsl. 3) Direkayasa film sejarah yang menipu yang wajib diputar secara nasional setiap tahunnya. 4) Dibuat buku wajib sejarah untuk SD s/d SMA yang menyesatkan. 5) Menciptakan sekolah bagi eselon satu pegawai negeri yaitu LEMHANAS (lembaga ini adalah monumen resmi supremasi militer terhadap sipil, saat ini masyarakat dikelabui dengan mendudukan seorang Sipil sebagai kepalanya, apa sih arti seorang dibanding segerombolan militer? Pada umumnya kepala LEMHANAS akan dihadiahi jabatan yang amat basah, minimal menteri, seperti Yuwono Sudarsono dan Purnomo Yosgiantoro). 5) Menciptakan penataran P4 dan mata kuliah Kewiraan (dibawah kendali militer yang ketat). 6) Mewajibkan litsus dan surat bebas G30S bagi pencari kerja. 7) Stigmatisasi PKI sebagai pengkhianat bangsa. Mendirikan berbagai LSM/ORMAS untuk melawan bangkitnya gerakan penegakan kebenaran sejarah 1965. 9) Menguasai berbagai mass media baik koran, radio, dan terutama TV untuk menjadi leader dalam pembentukan opini bangsa. 10) Membrangus kampus dengan wawasan Almamater (dan sekarang ini dengan strategi melibatkan para dosennya untuk ber multi fungsi yaitu: dosen, selebritis, bisnis, dan politikus). 10) Menugas belajarkan para jendral TNI/POLRI lalu beramai-ramai menempuh program MM dan MBA untuk menjustifikasi peran multi fungsi mereka (inilah saat dimulainya perusakan mutu pendidikan tinggi di Indonesia; banyak militer yang malas kuliah/belajar namun tetap ingin lulus, dan dosennyapun takut pada para preman berbintang yang digaji negara ini). 11) Terus menerus menyewa ilmuwan untuk menulis buku sejarah versi mereka (= regim militer), terutama ilmuwan Barat mengingat bangsa Indonesia masih merasa rendah diri ketimbang kulit putih. 12) Last but not least, menyelubungi kupdetat merangkak militer ini dengan menciptakan “ideologi baru yang disebut Dwi fungsi ABRI”. - Mengingat kasus 1965 adalah kasus pelanggaran HAM yang maha besar, bahkan lebih kejam daripada Hitler di Jerman, sebab regim Soeharto membantai bangsanya sendiri itupun s/d anak-cucu, Hitler/Jerman membantai Yahudi, maka level pelanggaran HAM 1965 sudah tingkatan internasional. Para oknum Jendral AD sebagai pelaku kebiadaban yang luar biasa itu kini hidupnya selalu berkeringat dingin campur darah, ketakutan, kecemasan, rasa bersalah dan hidupnya selalu dibayang-bayangi/dihantui wajah hampir sejuta jiwa korban manusia. Demi menghindari tuntutan yang maha luar biasa besarnya dan beratnya dari para korban G30S tsb., para oknum Jendral AD ini terus menerus menggunakan politisasi agama Islam untuk melawan gerakan pelurusan sejarah. Terutama menggunakan para pemuka agama, LSM2, dan cendekiawan kampus. Dana finansial bagi mereka tidak masalah, sebab 1/3 harta negara Indonesia telah mereka kuasai, ini hasil merampok bangsanya sendiri selama kurang lebih 32 tahun. - Kedigdayaan regim militer/ORBA adalah kemampuan menguasai dana (hasil merampok bangsanya sendiri) dan menyusupi semua mass media di Indonesia: dari televisi, radio, s/d koran. Bahkan koran terbesar di Indonesia, yakni Kompas, pun telah mereka susupi. Jika anda adalah pembaca yang sangat cerdas, teliti, serta selalu sadar dan waspada, maka setiap kali ada berita di Kompas tentang usaha pemulihan nama baik para korban stigmatisasi PKI (yang saat ini mereka sudah tua, diatas 65 th), selalu diikuti gambar/poto yang menyolok sekali tentang demonstran yang mengingatkan akan bahaya timbulnya PKI bila hak mereka dipulihkan (catatan: mengapa bukan bahaya KKN, Orba dan militerisme yang ditakutkan?), demo ini pada umumnya menggunakan atribut Islam, misalnya menggunakan bendera Front Pembela Islam. Demikian pula, tulisan bermutu Kwik Kian Gie yang berusaha membeberkan konspirasi regim Soeharto dengan regim USA tidak dapat dimuat di Kompas, melainkan Jawa Pos. Prof. Ben Anderson, ahli G30S, menyiratkan sikap mendua bos Kompas yakni Jacob Utama (sebab saat regim Soeharto berkuasa, Jacob Utama termasuk pendukungnya, untuk ini mohon dibaca artikel yang lain). Pada akhir2 ini (2007) Kompas sering memuat dan memulihkan citra generasi tua penopang orde Baru. Strategi Kompas boleh disebut “mengikuti arus, namun tidak tenggelam”, sebab Kompas dimiliki oleh kaum minoritas (Katolik). Satu2nya kesulitan regim Orba adalah menguasai informasi di internet yang bebas-merdeka! Penutup Dalang/otak penggulingan Soekarno adalah CIA (USA) mengadu domba dengan Soeharto dibantu para oknum jendral TNI AD. Hubungan antara Amerika dengan Soeharto saat 1965 adalah bagaikan hubungan antara majikan (atau dalang) dengan pembunuh bayaran (atau operator lapangan); hubungan ini sampai dengan saat ini masih amat sangat dirahasiakan. Dan untuk menutup maha rahasia ini, PKI dikambing hitamkan. G30S di tahun 1965 adalah pengkianatan para oknum jendral TNI AD dibawah pimpinan Soeharto atas bangsanya, bukan pengkianatan PKI. Akibat maha rahasia ini, USA bagaikan mempunyai kartu As terhadapap Indonesia; apapun kehendak USA boleh dikata harus dituruti oleh pemerintah Indonesia, misal dalam hal kasus Free Port, tambang minyak blok Cepu, dan kasus MoU Microsoft. Mengingat regim Soeharto masih mendominasi perpolitikan di Indonesia hingga kini (cermatilah, hampir semua parpol disusupi oleh para oknum jendral TNI AD), maka maha rahasia ini sulit dibongkar. Sayangnya, rahasia terbesar dan maha memalukan para penguasa politik Indonesia saat ini ada ditelapak tangan pemerintah Amerika! Amerika lalu dapat mendikte Indonesia, sebab kalau semua keinginan USA tidak dituruti, rahasia ini dapat mereka (USA) ungkapkan. Dan kalau diungkapkan, maka nasib fatal akan dialami oleh Soeharto dan para oknum jendral TNI AD (plus mafia Berkeley); sebab ternyata mereka ini adalah pengkianat negara terbesar sepanjang sejarah Indonesia, konsekuensinya bangsa Indonesia barangkali akan menggantung pengkianat ini tinggi2 di menara Monas Jakarta, dan nama harum mereka akan hancur berantakan seketika itu. Sebagai penutup, bila dominasi perpolitikan Indonesia oleh para jendral pengkianat bangsa ini (plus parpol bikinan mereka) dapat diakhiri secara cepat, maka percepatan perbaikan bangsa juga akan mengalami kelipatan luar biasa, bagaikan habis gelap terbitlah terang! Oleh sebab itu, mohon bantuan pembaca untuk menyebarluaskan artikel ini demi meningkatkan kecerdasan berpolitik bangsa. Terima kasih.
Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘boneka Indonesia’ ketangan USA dkk., hasil tangkapan pun dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonoom-ekonoom Indonesia yang top”. Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ’the Berkeley Mafia’ (yang kebanyakan dosen UI), karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, mereka menawarkan : … buruh murah yang melimpah… cadangan besar dari sumber daya alam … pasar yang besar.” Di halaman 39 ditulis: “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ’Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffry Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Sampson, telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. ’Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini yang kami inginkan: ini, ini, dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. - Tusukan regim Soeharto atas bangsanya/Soekarno mengakibatkan kekayaan alam Indonesia dari Sabang (LNG Arun) s/d Merauke (Free Port ) jatuh ketangan negara Barat terutama USA. Regim militer dibawah Soeharto bersama USA dan negara barat lainnya bagaikan merampok Indonesia (diawal kejayaan Soeharto), misalnya penguasaan konsesi tambang2: Freeport, Caltex, LNG Arun, dst; jadi penguasa kekayaan alam dari Sabang sampai dengan Merauke adalah negara asing lewat agennya di Jakarta. Juga lewat IMF dan world bank, USA menguasai finansial, Indonesia mulai dijajah ekonominya dengan dijerat hutang, Jakarta lalu menjadi akditip terhadap hutang, strategi gali-tutup hutang dilakukan, pejabat penanda tangan hutang tentu saja mendapat komisi, inilah yang membuat para petinggi Indonesia kecanduan berhutang! Regim ORBA sungguh2 menggadaikan negara ini ke negara asing! Boleh dikatakan bahwa 1/3 kekayaan alam Indonesia jatuh ketangan asing, 1/3 nya lagi jatuh ketangan para penguasa hitam terutama di Jakarta (birokrat, politisi, jendral AD/POLRI, dan konglomerat hitam), dan hanya 1/3 sisanya saja yang menjadi sumber APBN kita! Maka benarlah bahwa pemilik kekayaan alam Indonesia itu bukan manusia lokal seperti Dayak, Riau, Aceh, dan Irian, melainkan negara adidaya dan para oknum pejabat pusat di Jakarta. Tidak heran kalau mereka (masyarakat luar Jawa) berkeinginan melepaskan diri dari Indonesia sebab mereka tetap miskin, bagaikan anak ayam mati dilumbung padi! - Untuk mengelabui sejarah pelanggaran HAM 1965 atau kupdeta militer, maka secara licik regim militer memakai strategi “Maling teriak maling”: 1) Semua jalan raya disemua kota besar Indonesia diinstruksikan untuk memakai nama para jendral Angkatan Darat yang terbunuh secara konyol namun tragis (A. Yani, Panjaitan, dst.) dan mereka ini digelari pahlawan nasional, langkah ini disertai pendirian monumen2 yang bersifat otot dan kekerasan: patung tentara dan bambu runcing, peran kecerdasan para intelektual seperti organisasi Stovia, Bung Karno, Bung Hatta, Sri Sultan HB IX, yang justru lebih penting malah dikecilkan bahkan diabaikan. 2) Hari lahir Pancasila digantikan dengan hari kesaktian Pcsl. 3) Direkayasa film sejarah yang menipu yang wajib diputar secara nasional setiap tahunnya. 4) Dibuat buku wajib sejarah untuk SD s/d SMA yang menyesatkan. 5) Menciptakan sekolah bagi eselon satu pegawai negeri yaitu LEMHANAS (lembaga ini adalah monumen resmi supremasi militer terhadap sipil, saat ini masyarakat dikelabui dengan mendudukan seorang Sipil sebagai kepalanya, apa sih arti seorang dibanding segerombolan militer? Pada umumnya kepala LEMHANAS akan dihadiahi jabatan yang amat basah, minimal menteri, seperti Yuwono Sudarsono dan Purnomo Yosgiantoro). 5) Menciptakan penataran P4 dan mata kuliah Kewiraan (dibawah kendali militer yang ketat). 6) Mewajibkan litsus dan surat bebas G30S bagi pencari kerja. 7) Stigmatisasi PKI sebagai pengkhianat bangsa. Mendirikan berbagai LSM/ORMAS untuk melawan bangkitnya gerakan penegakan kebenaran sejarah 1965. 9) Menguasai berbagai mass media baik koran, radio, dan terutama TV untuk menjadi leader dalam pembentukan opini bangsa. 10) Membrangus kampus dengan wawasan Almamater (dan sekarang ini dengan strategi melibatkan para dosennya untuk ber multi fungsi yaitu: dosen, selebritis, bisnis, dan politikus). 10) Menugas belajarkan para jendral TNI/POLRI lalu beramai-ramai menempuh program MM dan MBA untuk menjustifikasi peran multi fungsi mereka (inilah saat dimulainya perusakan mutu pendidikan tinggi di Indonesia; banyak militer yang malas kuliah/belajar namun tetap ingin lulus, dan dosennyapun takut pada para preman berbintang yang digaji negara ini). 11) Terus menerus menyewa ilmuwan untuk menulis buku sejarah versi mereka (= regim militer), terutama ilmuwan Barat mengingat bangsa Indonesia masih merasa rendah diri ketimbang kulit putih. 12) Last but not least, menyelubungi kupdetat merangkak militer ini dengan menciptakan “ideologi baru yang disebut Dwi fungsi ABRI”. - Mengingat kasus 1965 adalah kasus pelanggaran HAM yang maha besar, bahkan lebih kejam daripada Hitler di Jerman, sebab regim Soeharto membantai bangsanya sendiri itupun s/d anak-cucu, Hitler/Jerman membantai Yahudi, maka level pelanggaran HAM 1965 sudah tingkatan internasional. Para oknum Jendral AD sebagai pelaku kebiadaban yang luar biasa itu kini hidupnya selalu berkeringat dingin campur darah, ketakutan, kecemasan, rasa bersalah dan hidupnya selalu dibayang-bayangi/dihantui wajah hampir sejuta jiwa korban manusia. Demi menghindari tuntutan yang maha luar biasa besarnya dan beratnya dari para korban G30S tsb., para oknum Jendral AD ini terus menerus menggunakan politisasi agama Islam untuk melawan gerakan pelurusan sejarah. Terutama menggunakan para pemuka agama, LSM2, dan cendekiawan kampus. Dana finansial bagi mereka tidak masalah, sebab 1/3 harta negara Indonesia telah mereka kuasai, ini hasil merampok bangsanya sendiri selama kurang lebih 32 tahun. - Kedigdayaan regim militer/ORBA adalah kemampuan menguasai dana (hasil merampok bangsanya sendiri) dan menyusupi semua mass media di Indonesia: dari televisi, radio, s/d koran. Bahkan koran terbesar di Indonesia, yakni Kompas, pun telah mereka susupi. Jika anda adalah pembaca yang sangat cerdas, teliti, serta selalu sadar dan waspada, maka setiap kali ada berita di Kompas tentang usaha pemulihan nama baik para korban stigmatisasi PKI (yang saat ini mereka sudah tua, diatas 65 th), selalu diikuti gambar/poto yang menyolok sekali tentang demonstran yang mengingatkan akan bahaya timbulnya PKI bila hak mereka dipulihkan (catatan: mengapa bukan bahaya KKN, Orba dan militerisme yang ditakutkan?), demo ini pada umumnya menggunakan atribut Islam, misalnya menggunakan bendera Front Pembela Islam. Demikian pula, tulisan bermutu Kwik Kian Gie yang berusaha membeberkan konspirasi regim Soeharto dengan regim USA tidak dapat dimuat di Kompas, melainkan Jawa Pos. Prof. Ben Anderson, ahli G30S, menyiratkan sikap mendua bos Kompas yakni Jacob Utama (sebab saat regim Soeharto berkuasa, Jacob Utama termasuk pendukungnya, untuk ini mohon dibaca artikel yang lain). Pada akhir2 ini (2007) Kompas sering memuat dan memulihkan citra generasi tua penopang orde Baru. Strategi Kompas boleh disebut “mengikuti arus, namun tidak tenggelam”, sebab Kompas dimiliki oleh kaum minoritas (Katolik). Satu2nya kesulitan regim Orba adalah menguasai informasi di internet yang bebas-merdeka! Penutup Dalang/otak penggulingan Soekarno adalah CIA (USA) mengadu domba dengan Soeharto dibantu para oknum jendral TNI AD. Hubungan antara Amerika dengan Soeharto saat 1965 adalah bagaikan hubungan antara majikan (atau dalang) dengan pembunuh bayaran (atau operator lapangan); hubungan ini sampai dengan saat ini masih amat sangat dirahasiakan. Dan untuk menutup maha rahasia ini, PKI dikambing hitamkan. G30S di tahun 1965 adalah pengkianatan para oknum jendral TNI AD dibawah pimpinan Soeharto atas bangsanya, bukan pengkianatan PKI. Akibat maha rahasia ini, USA bagaikan mempunyai kartu As terhadapap Indonesia; apapun kehendak USA boleh dikata harus dituruti oleh pemerintah Indonesia, misal dalam hal kasus Free Port, tambang minyak blok Cepu, dan kasus MoU Microsoft. Mengingat regim Soeharto masih mendominasi perpolitikan di Indonesia hingga kini (cermatilah, hampir semua parpol disusupi oleh para oknum jendral TNI AD), maka maha rahasia ini sulit dibongkar. Sayangnya, rahasia terbesar dan maha memalukan para penguasa politik Indonesia saat ini ada ditelapak tangan pemerintah Amerika! Amerika lalu dapat mendikte Indonesia, sebab kalau semua keinginan USA tidak dituruti, rahasia ini dapat mereka (USA) ungkapkan. Dan kalau diungkapkan, maka nasib fatal akan dialami oleh Soeharto dan para oknum jendral TNI AD (plus mafia Berkeley); sebab ternyata mereka ini adalah pengkianat negara terbesar sepanjang sejarah Indonesia, konsekuensinya bangsa Indonesia barangkali akan menggantung pengkianat ini tinggi2 di menara Monas Jakarta, dan nama harum mereka akan hancur berantakan seketika itu. Sebagai penutup, bila dominasi perpolitikan Indonesia oleh para jendral pengkianat bangsa ini (plus parpol bikinan mereka) dapat diakhiri secara cepat, maka percepatan perbaikan bangsa juga akan mengalami kelipatan luar biasa, bagaikan habis gelap terbitlah terang! Oleh sebab itu, mohon bantuan pembaca untuk menyebarluaskan artikel ini demi meningkatkan kecerdasan berpolitik bangsa. Terima kasih.

Tidak ada komentar: